Showing posts with label Muhasabah. Show all posts
Showing posts with label Muhasabah. Show all posts

Saturday, January 11, 2014

Godaan bagi orang berilmu

Jangan disangka bahwa seseorang yang berilmu sudah otmatis terlindungi dari kebodohan dan terlepas dari godaan. Meskipun orang berilmu berada di tingkatan yang lebih tinggi daripada makhluk-makhluk lain, ia juga tetap menghadapi godaan yang tidak kalah besar. Bahkan godaan orang yang berilmu jauh lebih besar dibandingkan godaan orang-orang selainnya. Begitu pula dalam akibatnya, bila ia berhasil maka jadilah ia orang yang paling takut (dekat) di sisi ALLAH. “Sesungguhnya yang takut kepada ALLAH di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Al-Fathir 28).

Dan sebaliknya, ketika ia gagal dalam menghadapi godaan, maka ia hanya menjadi penyebab kerusakan di muka bumi. Dia jugalah yang disinyalir oleh Rasulullah SAW sebagai manusia selain Dajjal lebih ditakuti karena sangat halus geraknya dari pada Dajjal itu sendiri. Rasul SAW ditanya, “Siapakah mereka wahai Rasulallah?” “Mereka adalah ulama-ulama yang jahat (‘ulama’ al-su’i).” (HR. Muslim).

Apa saja godaan orang berilmu?

Yang pertama adalah harta benda atau duniawi. Ini adalah cobaan yang paling ringan. Orang yang berilmu seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terkadang menyulitkan. Ketika seseorang menjadi ilmuwan, maka dengan sendirinya harta dunia itu datang. Kesempatan orang yang berilmu dalam mendapatkan dunia lebih besar daripada orang yang tidak berilmu. Di sinilah orang yang berilmu digoda. Apakah ilmu yang dimilikinya bisa menagtur nafsu syahwatnya (yang cenderung pada dunia)..? Ataukah sebaliknya, nafsu syahwatnyalah yang menjadi pengatur ilmunya?

Apakah yang terakhir ini bisa terjadi pada orang yang berilmu? Bagaimana bisa?

Memang tidak salah bila orang berilmu mendapatkan harta dunia dari ilmu-ilmunya. Tidak salah bila seorang dokter mendapatkan upahnya. Pun tidak salah bagi seorang guru/dosen mendapatkan ststusnya. Namun yang disalahkan adalah bila ilmu dijadilakn legitimasi dari keinginan-keinginan duniawinya. Yang salah adalah dokter yang menyalahgunakan keilmuannya demi sejumlah rupiah. Yang berbahaya adalah ulama/ilmuwan/cendekiawan yang memanfaatkan kedalaman ilmu atau pengetahuannya demi sejumlah harta. Kalau apa yang dibuat oleh dokter dalam penyahgunaannya mungkin menyebabkan malpraktek, atau paling parah bisa menyebabkan kematian fisik manusia, maka kesalahan ulama terhadap penyalahgunaan ilmunya bisa lebih berbahaya dari sekedar kematian fisik. Kesalahan bisa menyebabkan kebingungan umat serta menjadi penyulut para hamba ALLAH untuk bermaksiat kepada-Nya. Yang paling berbahaya adalah tingkah ulama ini bisa juga menghancurkan akidah umat. Hal tersebut bisa terjadi hanya karena kecenderungannya pada harta benda.

Godaan yang kedua adalah kehormatan dan nama baik di mata makhluk.

Ini adalah penyakit jiwa. Mungkin saja orang berilmu terhindar dari godaan harta yang hina karena ketampakannya, maka ia tidak begitu saja lepas dari godaan kedua yang halus ini. Ia adalah godaan yang lembut dalam jiwa manusia. Kecenderungan orang yang berilmu setelah penguasaan yang mendalam dalam keilmuan adalah keinginan untuk dihormati. Ia merasa berhak dengan penghormatan semua makhluk karena ketinggian ilmunya.

Bila cinta/gila hormat dari makhluk ini dibiarkan begitu saja, maka orang berilmu akan terjangkit pada penyakit ketiga yang paling berbahaya, yaitu kesombongan. Pada godaan ini, orang berilmu memang tidak lagi berhadapan dengan harta dunia. Mungkin saja ia berhasil melewati harta dunia. Tapi kesombongan adalah hal yang sangat halus yang masuk ke dalam jiwa manusia. Bila orang yang berilmu lengah sedikit saja, ia akan dimasuki rasa ini. “Bahwa akulah orang yang paling berilmu. Bahwa akulah orang yang paling dekat di sisi ALLAH. Tidak ada orang yang lebih alim dariku.” Begitu kira-kira godaan yang ada di dalam hatinya.

Akibatnya, ia akan menyepelekan orang lain, mengaggap orang lain lebih bodoh dan rendah, serta enggan menolak apa yang datang dari orang lain, walau itu suatu yang benar. Ia mengaggap bahwa ia adalah segala-galanya, yang lebih mengetahui dan memahami setiap sesuatu dibanding lainnya.

Pada tahap yang lebih berbahaya adalah penolakan orang berilmu pada keberadaan ALLAH dan kenyataan akan kebesaran-Nya. Ia tiada segan untuk menafikan ALLAH dalam kehidupannya. Ia hanya mengagungkan ilmunya. Ia lupa kepada Sang Pemberi ilmu, Sang Maha Tahu. “Kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanya karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Zumar 49). Na’udzubillah. Padahal, apa yang diketahui oleh manusia hanyalah setetes dari luasnya samudera pengetahuan ALLAH.

Sejatinya, ilmu adalah perantara yang mengantarkan kita semua pada kedekatan kepada-Nya. Itu pula yang diisyaratkan oleh al-Qur'an. Karena tujuan sejati dalam pencarian ilmu adalah pendekatan kepada-Nya. Orang yang berilmu adalah orang yang paling bertakwa. Dan barang siapa yang bertakwa maka ALLAH akan lebih mencurahkan ilmu-Nya. (QS. Al-Baqarah: 282). Bukan harta, kehormatan, maupun kesombongan yang diharapkan dari orang-orang yang berilmu.

Maka, marilah kita menjadi padi, semakin berisi ia akan semakin merunduk. Semakin berilmu sudah semestinya membawa kita pada ketundukan kepada ALLAH, serta membawa kita pada kesadaran pada kita tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan ALLAH. Ilmu kita tidak ada bandingannnya dengan ilmu ALLAH, bahkan seujung kuku pun.

Ya ALLAH, Rabbi zidni ilman nafi'an warzuqni fahman..

 Sumber : http://jamaatulhuda.wordpress.com/2008/07/27/godaan-orang-berilmu-2/

Monday, May 7, 2012

Syukur??

Yang tinggal di gunung merindukan pantai...
Yang tinggal di pantai merindukan gunung ...

Di musim kemarau merindukan musim hujan ..
Di musim hujan merindukan musim kemarau ...

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang ..
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam ...

Diam di rumah merindukan bepergian ..
Setelah bepergian merindukan rumah ..

Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Wirausahawan
supaya punya time freedom…
Begitu jadi Wirausahawan ingin jadi karyawan, biar gak pusing…

Waktu tenang mencari keramaian ..
Waktu ramai mencari ketenangan ...

Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki ?

“Jadilah pribadi yang selalu bersyukur. ..
Bersyukurlah senantiasa dengan berkah Yαng sudah kita miliki”.

“Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?
Jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit ...

Namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi!”
Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana ...
Bumi ini pun akan tampak buruk ...

Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil ..
Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran buruk/negatif!
Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua ..

Syukuri apa yg ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa jiwa yg ikhlas ..

Sunday, January 29, 2012

-Takabur-



Nabi Saw. Pernah bersabda kpd seorang sahabat bernama Abu Dzar, ''Wahai Abu Dzar, brgsiapa mati dlm hatinya ada sebesar debu dr takabur, ia tdk akn mencium bau surga, kecuali bila ia bertobat sebelum maut menjemputny''
... -Ada seorang ulama yg membuat checklist sbg alat introspeksi u/ mengetahui apakah kita masuk dlm gol. org yg takabur/ tdk :
*kita Takabur, bila kita tdk mau menerima kebenaran krna yg menyampaikn kebenaran itu pangkatny lebih rendah dari kita, atau kebenaran itu disampaikn o/ org yg berbeda paham Islamnya dg kita.
*Kita Takabur, bila merasa Lebih berilmu dbndingkn org lain. meremehkan org lain yg kita anggap bodoh & kita mentertawakan kebodohannya. Kita beri gelar yg buruk2, kita khususkan surga hanya untuk gol. yg sepaham dg kita.
*Kita Takabur, bila kita merasa paling shalih dr sekian manusia, bangga dg tilawah sholat malam qt, dg panjangnya jilbab atau pendeknya celana yg qt gunakan.
*Kita Takabur, bila merasa mempunyai harta/kekayaan Lebih dr kebanyakan org merasa tinggi hati dg tittle /jabatan dunia yg kita sandang.

Semoga Allah senantiasa menjaga lisan kita, melindungi stiap langkah dan gerak kita agar terhindar dari sikap yg demikian, aminn,,,

Salam,
Luv u coz Allah =)

Friday, February 11, 2011

Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu*

*** Bila engkau memandang Sesuatu dari Tuhanmu yg mnciptakan segala sesuatu, yg menimpakan Ujian, yg mnjadikn sesak hatimu, yg membuat keinginanmu terhalang, serta menyusahkan Hidupmu, pasti akn Damailah Hatimu, krna Allah yg Sengaja Takdirkn, namun bukan karena Allah tdk tau derita Hidupmu, retaknya hatimu, tp mungkin itulah yg Dia mau, karna Dia Tau, Hati yg beginilah yg lebih lunak dan Mudah tuk Dekat & Akrab DenganNya.***


Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : 
"Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat selain Tirmidzi : “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”) [Tirmidzi no. 2516]

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. al-Ankabut: 2-3)

Thursday, April 15, 2010

*Ketika Hati Pernah Terbagi*

Papan Kayu, Paku, dan Lubang
Jika hati itu ibarat papan kayu, maka pasangan hidup adalah pakunya. Sedang lubang yang tertinggal di papan tatkala paku dicabut adalah kenangan. Meski paku tak lagi bersarang, namun tubuh papan telah berubah. Tubuhnya kini tak lagi mulus lantaran lubang-lubang yang bersemayam. Banyaknya lubang tentu saja tergantung dari banyaknya paku yang sempat tertanam. Dan besar kecilnya lubang tergantung pula dari bagaimana paku mengoyak papan kayu.

Harus diakui, siapa pun orang di sekitar kita pasti memiliki tempat tersendiri di hati. Berdasarkan perbedaan porsi, muncullah klasifikasi status sosial-pribadi: kenalan, teman, sahabat, saudara, keluarga, atau bahkan kekasih. Klasifikasi tersebut memiliki satu pondasi: cinta.

Kualitas cinta akan semakin sempurna apabila memiliki porsi yang total. Sepenuh hati. Suci. Cinta seperti ini tentu saja didasarkan bukan semata-mata cinta karena makhluk, melainkan cinta karena Allah SWT.[1] Cinta seperti inilah yang patut kita realisasikan dalam kehidupan, termasuk pernikahan.

Jangan Hanya ‘Sisa’
Bukankah rumah yang kokoh itu tidak dibangun dari kayu yang rapuh? Pun begitu dengan pernikahan. Dibutuhkan hati yang utuh untuk menciptakan pernikahan yang kokoh.

Tapi justru dewasa ini, kita disuguhkan dengan fenomena permainan hati (pacaran) yang kian semarak. Di mana sebelum menikah, hati dibuka lebar-lebar layaknya hotel untuk disinggahi banyak orang secara ‘temporer’, namun memberi bekas secara ‘permanen’. Bagaimana tidak, pernikahan dengan kondisi hati seperti ini akan melahirkan banyak perbandingan lantaran kenangan-kenangan dengan ‘si dia’, ‘si dia’, atau ‘si mereka’ yang terus saja membayang di setiap jengkal kehidupan. Manakala suami/istri kita menyuapi bubur misalnya, terlintas begitu saja bayangan ‘si dia’ yang dulu juga pernah menyuapi kita bubur. Ketika melintas di kerumunan, lalu mencium bau parfum yang khas, ingat ‘si dia’ yang juga memiliki harum yang sama. Lalu kemudian mulai membandingkan, kenapa suami/istri kita tidak wangi seperti ‘si dia’.

Sejenak mungkin tubuh kita hadir bersama suami/istri, namun pikiran melayang membayangkan kisah-kisah indah bersama ‘si dia’. Hal itu disebabkan oleh pemberian hati yang tidak utuh lantaran telah banyak lubang yang dihasilkan tusukkan-tusukkan cinta yang ‘semu’ dari masa lalu. Menyedihkan, bukan?

Bayangkan, ketika kita melihat kertas polos dengan satu nama di tengahnya, mata kita akan menangkap satu sentralisasi konsentrasi yang utuh. Namun tidak demikian apabila terdapat banyak nama dan tulisan di kertas tersebut. Mata kita akan mendapati banyak nama dan konsentrasi kita menjadi tidak fokus. Meski pun nama yang dituju telah diberi tanda khusus, lingkaran misalnya, namun tetap saja kertas itu tidak bersih dan indah. Tulisan-tulisan selain yang dilingkari kerap kali mengganggu.

Hal serupa terjadi pada hati kita. Hati yang belum pernah terjamah permainan cinta akan fokus terhadap satu nama pertama dan terakhir. Di mana nama tersebut tertulis sebagai pendamping hidup kita: ‘fulan bin fulan’ atau ‘fulanah binti fulan’.

Allah SWT memberi jodoh sesuai dengan cerminan diri kita.[2] Maka coba tanyakan pada nurani, apakah kita tega hanya memberi hati yang ‘sisa’ kepada suami/istri kita? Sementara tanyakan pada logika, apakah kita siap hanya mendapat hati yang ‘sisa’ dari suami/istri kita?


Rumah yang Kokoh
Sungguh indah segala keteraturan. Layaknya lalu lintas, indahnya keselamatan akan tercipta apabila para pengguna jalan mematuhi rambu-rambu yang ada secara teratur. Untuk membentuk rumah tangga yang indah pun perlu adanya sebuah keteraturan dalam membangunnya: keteraturan menjaga hati dan kesucian diri.

Sebelum berumah tangga, seorang Muslim haruslah menjaga kesuciannya.[3] Menjaga diri dari masuknya cinta selain untuk Allah SWT. Maka dari itu tidaklah dibenarkan untuk mengikuti langkah-langkah syetan dengan mengumbar cinta atau berpacaran sebelum menikah.[4] Dengan begitu hati akan tetap terjaga kesuciannya dari lubang-lubang cinta yang tidak semestinya.

Tatkala menikah, hati yang utuh dan suci akan merasa bahagia dengan cinta pertama dan terakhir. Cinta yang diberikan kepada suami/istri dalam balutan ridho Illahi. Cinta yang utuh, lantaran hati tak pernah terjamah cinta yang lain. Cinta yang suci, lantaran hati tak pernah terkotori cinta yang salah. Cinta seperti inilah dapat saling melindungi dan memberikan nuansa kemurnian cinta yang sesungguhnya dalam rumah tangga.[5]

Serupa rumah yang kokoh, akan memberi perlindungan apabila komponen dasarnya juga utuh dan kokoh.

Kini tengoklah ke dalam hati, sudah sejauh mana hati terbagi?

Wednesday, April 7, 2010

Meskipun Sedikit Asalkan Berkelanjutan *IstiQomah*

“Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” ( QS. Al Baqarah: 110)


Melangkah terus di atas Jalan Ketaatan

Melakukan amal shalih secara terus-menerus, setahap demi setahap, ibarat membangun benteng diri yang kokoh. Inilah amal yang dicintai Allah, yakni melakukan ibadah dan kebaikan tanpa henti, meskipun hanya sedikit. Ibarat menanam benih pohon, memberinya pupuk dan menyiraminya dengan air. Pohon itu adalah jiwa kita sendiri. Pupuk dan airnya adalah amal-amal ibadah dan keimanan. Maka, siramilah pohon iman itu agar ia tumbuh segar dan tak layu, agar jiwa terus terangkat menuju derajat yang lebih baik, menapaki tanga-tangga kearah kesempurnaan.
Semangat Kontinuitas dalam beramal dengan tetap memelihara kualitas beramal. Maka siapapun yang ingin mencapai tujuan besar (yakni tetap berada dalam keistiqamahan) maka ia harus menempuh terlebih dahulu penderitaan, kesulitan dan keadaan yang tidak disukai.
Maka beramal secara bijaksana, karena istiqamah, kontinuitas dan kesinambungan sulit diterapkan keculai dengan memilih jalan pertengahan, tidak berlebihan dan tidak melewati batas kemampuan melakukannya. Sabda Rasul: “Luruskanlah dirimu dan janganlah berlebih-lebihan...” (HR. Ibnu Majah)
Sabda Rasul: “Ahabbul a’maali ilallahi adwamuha wa in qalla.” Artinya, perbuatan yang paling dicintai Allah adalah adalah yang terus-menerus walaupun hanya sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim).
Optimalkan usia yang masih tersisa, teruslah melakukan amal sampai ajal menjelang!


Kenapa Sedikit Tapi Berkelanjutan itu Lebih Baik?

1. Sedikit tapi kontinu adalah indikasi keikhlasan
Ibadah yang dilakukan hanya sewaktu-waktu, tidak kontinu, sesuai keadaan adalah tanda keikhlasan belum sempurna, karena dilakukan ketika sedang butuh.
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus :2)
Hamba yang ikhlas akan tetap istiqamah melakukan ibadah. Saat sulit ia bersimpuh dan sujud memohon pertolongan Allah, saat lapang ia semakin banyak bersyukur dan mendekat kepada Allah.

2. Sedikit tapi kontinu adalah mata air rasa nyaman
Amal shalih yang dilakukan teru-menerus meski sedikit akan menciptakan suasana damai dan tenang dalam hati, karena kontinuitas ibadahnya itulah yang membina jiwa sehingga ia merasakan kebahagiaan dan kelezatan serta kedekatan kepada Allah.

3. Sedikit tapi kontinu adalah strategi
Perbutan manusia memiliki beberapa tingkatan. Saat amal ibadahnya sedikit berarti ia berada pada tingkatan rendah, apabila istiqamah itu adalah strategi untuknya dalam meningkatkan amal ibadahnya menuju tingkatan amal yang lebih tinggi lagi. Karena merasa amal ibadah yang rendah itu sudah cukup mudah dan tidak berat lagi dilakukan.

4. Sedikit tapi kontinu adalah bahan bakar utama
Karena dengan amal ibadah sedikit tapi kontinu akan semakin menyuburkan iman dalam jiwanya sehingga bertambahlah keinginan baginya untuk lebih meningkatkan amalnya agar lebih dekat lagi kepada Allah.
Ibarat sebuah lentera, bila lentera adalah iman, maka minyak/bahan bakarnya adalah amal-amal shalih. Bila ia melakukan amal shalih walaupun sedikit akan tetap menambah minyak bagi lentera, sehingga bertambahlah keimanannya dan selamat dari jalan yang sesat.


Kebaikan Itu Ada Nafasnya

Ada batas minimal seorang muslim bisa tetap bertahan melakukan kebaikan.rahasianya terletak pada kemampuan menyiasati lika liku agar tetap dalam kebaikan. Berikut langkah-langkah dalam menyiasati dan menjaga nafas-nafas kebaikan:
1. Yakin setiap amal ada nilainya
tidak ada kebaikan yang tak bernilai meskipun hanya kecil, kita tidak boleh menganggap remeh amal kebaikan yang kecil. Ini dalam kaitan menjaga semangat beramal, bukan berarti amal kita sudah banyak.
Banyak peran-peran penting yang diemban oleh unsur-unsur kecil, demikian juga amal. Gunung yang tinggi menjulang terdiri dari bebatuan yang kecil dan besar. Penyangga rel kereta api yang dilalui ular-ular besi yang beratnya berton-ton, ternyata di bawah bantalan rel itu teradapat batu-batu kecil yang menyangganya.
Nasihat Rasulullah kepada istrinya Aisyah, “Jauhilah neraka, meski dengan (bersedekah senilai) separo biji kurma.”
Kebaikan yang dilaksanakan dengan ikhlas, akan dibahas oleh Allah.

Sebagaimana firman Allah swt:
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Nb: yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.

2. Selalu merasa kurang
Kita tidak boleh merasa puas dengan apa yang terlah kita lakukan. Hal ini perlu, demi menyambung amal-amal kebajikan. Artinya, dengan merasa kurang, kita akan terdorong terus beramal dan beramal.
Dunia ini seperti hutan belantara yang gelap. Yang tidak punya cahaya dan tidak yang tahu jalan pasti tersesat. Lentera dan cahaya itu adalah iman kepada Allah, sedang minyak dan bahan bakarnya adalah amal-amal saleh. Dengan lentera itu kita tidak akan salah jalan dan bisa menghindari jurang yang berbahaya.
Iman yang tidak dinyalakan dengan amal, tidak akan bisa menerangi hidup, hingga akhirnya padam. Maka setiap kali berbuat kebaikan, ingatlah bahwa ia akan menambah minyak bagi lentera itu.

3. Carilah Kesegaran Baru
Kadangkala timbul rasa malas dan bosan untuk terus melakukan kebaikan tertentu, karena kita tidak pernah luput dari pasang surut semangat, naik turun iman dan irama hati yang kadang berubah-ubah. Keadaan ini berpengaruh terhadap kesinambungan sebuah amal. Mula-mula berkurang, tetapi bila dibiarkan bisa membuat terhenti.
Untuk menghadapinya, carilah kesegaran baru. Maksudnya, mencoba menyegarkan kembali jiwa dan raga. Bisa dengan cara mengubah kebiasaan yang rutin dengan sesuatu yang baru, menyela kegiatan yang monoton dengan kegiatan yang baru. Misal: dengan rekreasi, olahraga, silaturahmi, bermain bersama anak-anak, dan lain-lain. Kesegaran ini tentu harus dalam batas halal.

4. Mohon Pertolongan Allah
Yang utama dan pertama adalah memohon pertolongan Allah, dengan berdoa dan bertaqorub kepada-Nya.
Dalam konteks kemanusiaan, mintalah pertolongan kepada sesama muslim; seperti teman, saudara, keluarga, orang-orang saleh, dan sebagainya, yaitu meminta nasihat dari mereka, menimba pengalaman, atau saling berbagi.


SEPULUH PERKARA YANG TIDAK BERMANFAAT
1. Ilmu yang tidak diamalkan
2. Amal yang tidak ikhlas
3. Harta yang tidak dipersembahkan kepada akhirat
4. Hati yang tidak mencintai Allah
5. Badan yang tidak taat dan tidak mengabdi kepada-Nya
6. Kecintaan yang tidak diridhai Allah dan tidak dalam menjalankan perintah-Nya
7. Waktu yang terbuang-buang, yang tidak digunakan untuk mengetahui Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya
8. Pemikiran yang berputar-putar pada sesuatu yang tidak bermanfaat
9. Pengabdian yang tidak mendekatkan diri kepada-Nya, tidak juga mendatangkan kemaslahatan bagi dunia
10. Rasa takut dan berharap kepada orang. Padahal nasib orang itu di tangan Allah. Orang itu sendiri tidak memiliki untuk dirinya bahaya, manfaat, kematian, dan kehidupan kecuali dengan izin Allah
(Ibnu Qayyim Al-Jauziah dalam Al-Fawa’id)



[Sumber: Majalah Tarbawi, edisi_lupa2@inget.com]

Sunday, March 14, 2010

Allah pun "Cemburu"

-->
Di Sisi Lain, Allah "Cembuu" pada hati Manusia. Apa Artinya?? Allah mencintai kalau hati sesorang hamba terkait denganNya sendirian ketika ia sedang dalam kondisi taat. tetapi kadang hamba itu tersibukkan oleh urusan dunianya, maka Alloh mengambil dunianya tersebut, agar ia hanya tersibukkan oleh Allah saja, dan bertawakal padaNya.
Lihatlah Ibrahim saat tertarik pada Ismail, Allah mengambil Ismail dari tangannya. dia memerintahkan padanya untuk menyembelih Ismail. Ketika ia meletakkan pisau di leher Ismail, yang ada di hatinya hanyalah kecintaan kepada Allah.
Lihatlah ketika Yaqub sangat tertarik kepada Yusuf, sehingga kecintaan terhadap yusuf memenuhi semua hidup dan hatinya. maka Allah mengambil Ysuf selama dua puluh tahun, sehingga hatinya kembali dipenuhi kecintaan pada Allah. setelah itu, Dia pun mengembalikan Yusuf padanya.

"Tidak ada yg melebihi kecemburuan Allah, karena itu Dia melarang perbuatan-perbuatan keji, baik yg jelas maupun yg tersembunyi." (HR.Bukhari)


Wednesday, March 3, 2010

Bertawakal Seperti Hati Burung

Dari Abu Hurairoh radiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan masuk surga suatu kaum, hati mereka seperti hati burung” (HR. Muslim) maknanya adalah dalam merealisasikan tawakal.



Lantas seperti apa hati burung? Hal ini dijelaskan oleh hadits dari sahabat Umar bin khotob radiyallahu’anhu, bahwasannya beliau mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih)

Mengomentari hadits tersebut, Ibnu Rajab rohimahullah berkata di dalam kitabnya Jami’ul ‘ulum wal Hikam, “Hadits ini adalah dasar atau asas di dalam bertawakal, hal terebut juga merupakan diantara sebab yang paling besar dalam memperoleh rizki,” Oleh karena itu, kita tidak pernah mendengar seekor burung pada pagi hari terbentur dengan masalah rizki, lalu dia benturkan kepalanya ke tiang listrik. Itu tidak terjadi pada burung, tapi pada manusia hal tersebut terjadi dan sering kita dengar di berita atau dia media massa.



Di dalam realitanya, merealisasikan hakikat tawakal di dalam hati kita bukan merupakan perkara yang mudah, dia adalah ibadah hati yang sangat agung, dia merupakan sumber kebaikan. Darinya timbul berbagai macam ibadah hati yang lainnya. Bahkan hakikat agama adalah tawakal dan inabah (kembali kepada Allah). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah : 5) Tawakal adalah isti’anah (minta pertolongan) dan inabah adalah ibadah.


Hilangnya berbagai kebaikan, luputnya kita dari amal yang besar, buruknya ibadah kita – karena tidak hadirnya rasa cinta, harap dan takut – adalah karena masih jauhnya kita dari hakikat tawakal. Bahkan kegelisahan dan ketakutan yang menimpa sebagian kaum muslimin adalah dikarenakan belum hadirnya tawakal di dalam qalbunya.

Berikut ini nukilan kami dari berbagai perkataan ulama tentang definisi dan hakikat tawakal. Mudah-mudah yang sedikit ini–dengan taufik dari Allah- bisa membantu kita merealisasikannya. Amin



Definisi Tawakal

Imam Ibnu Rajab rahimahulloh berkata, “Hakekat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akherat”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.



Bertawakallah Hanya Kepada Allah


Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar bertawakal hanya kepada-Nya dalam banyak ayat. Diantaranya ayat (yang artinya), “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Al-Maidah : 23) “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. At-Tholaq : 3)



Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab….mereka adalah orang-orang yang tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada burung dan sejenisnya, tidak berobat dengan besi panas dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka” (HR. Muslim)



Tawakal kepada Allah adalah syarat sahnya keislaman dan keimanan seseorang. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang beriman” (Al-Maidah :3) dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Musa berkata, ‘wahai kaumku ! apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kalian kepada-Nya jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri)” (QS. Yunus : 84)

Maka tawakal merupakan ibadah yang sangat agung. tawakal adalah murni ibadah hati, oleh karena itu mengesakan Allah Ta’ala dalam tawakal adalah merupakan kewajiban, dan memalingkannya kepada selain Allah merupakan kesyirikan. Wal’iyadzubillah.


“Sungguh kita tidak bisa terlepas dari-Nya sekejap mata pun. Jika kita bersandar kepada diri sendiri, maka kita telah meyerahkan diri kita kepada kelemahan yang rendah dan serba kurang, khilaf dan kesalahan. Dan jika kita bersandar kepada orang lain maka kita telah mempercayakan diri kepada yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat, serta tidak mampu mematikan dan menghidupkan serta membangkitkan dan mengumpulkan kembali”. Itulah nukilan dari perkataan Ibnul Qayim rahimahullah didalam kitabnya alfawaid. wallahu ‘alam. Maka bertawakallah wahai hamba Allah kepada Dzat yang ditangan-Nya segala urusan dan yang memiliki segalanya.



Bertawakal Kepada Selain Allah



Bertawakal kepada selain Allah ada tiga keadaan :

1) Syirik akbar (besar). Yaitu seorang bertawakal kepada selain Allah Ta’ala dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah Ta’ala tidak selain-Nya. Contoh : seseorang bertawakal kepada makhluk /wali di dalam memperoleh kebaikan atau bertawakal kepada makhluk dengan hatinya Karena ingin mempunyai anak atau pekerjaan, sedang makhluk tersebut tidak mampu memenuhi keinginannya tersebut.



2) Syirik kecil. Yaitu seseorang bertawakal kepada selain Allah dalam perkara dimana Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepada makhluk tersebut untuk memenuhinya. Contoh : seorang istri bertawakal kepada suami dalam kebutuhan hariannya. (peringatan: syirik walaupun kecil, pelakunya tetap diancam neraka hingga ia bertaubat)



3) Boleh. Yaitu seseorang bertawakal kepada selain Allah dalam arti mewakilkan urusannya kepada seseorang tanpa disertai penyandaran hati. Contoh : menyerahkan kendali perusahaan kepada seorang menejer. seperti Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan kepada Ali radiyallahu’anhu untuk menyembelih qurbannya dan mewakilkan kepada Abu Hurairoh radiyallahu’anhu dalam masalah sodaqoh.



Menghadirkan Tawakal



“Tawakal kepada Allah Ta’ala merupakan ibadah yang dituntut dari seorang mu’min Kekuatan tawakal seseorang kepada Allah Ta’ala kembali kepada pemahamannya tentang rububiyah Allah Ta’ala dan keimanannya yang mendalam terhadap tauhid rububiyah. Maka untuk menghadirkan dan memunculkan tawakal di dalam hati kembali kepada perenungan terhadap atsar-atsar dari rububiyah Allah Ta’ala. Semakin banyak seorang hamba merenung dan memperhatikan kekuasaan dan kerajaan Allah di langit dan di bumi, pengetahuannya bahwa Allah adalah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, bahwasannya hanya Dia yang mengatur dan menjalankannya dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya merupakan sesuatu yang mudah dibandingkan dengan pengaturan alam semesta ini, maka akan semakin besar pengagungannya kepada Allah, semakin kuat pula tawakalnya kepada Allah Ta’ala, ia pun mengagungkan perintah-Nya (dengan melaksanakannya), dan mengagungkan larangan-Nya (dengan menjauhinya), dan ia pun meyakini tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan-Nya dan tidak ada yang sulit bagi-Nya. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” (QS. Ath-Tholaq : 3)” Itulah nukilan perkataan Syekh Sholih Alu Syaikh di dalam kitabnya at-tamhid syarah kitab tauhid. walahu’alam

Penjelasannya, apabila seorang hamba mengilmui tentang keesaan Allah dalam hal menolak bahaya dan mendatangkan manfaat, dalam hal memberi dan menahan, dalam hal mencipatakan dan memberi rizki, dalam hal menghidupakan dan mematikan (dan ini semua adalah rububiyah Allah), maka itu akan membuahkan ubudiyah tawakal kepada-Nya semata secara batin, dan konsekwensi tawakal dan buahnya secara lahiriyah.


Tawakal Bukan Hanya Pasrah

Kadang seseorang salah kaprah dalam memaknai tawakal, ia menganggap bahwa tawakal adalah legowo (menerima total) keadaan tanpa ada upaya perubahan, namun perlu diketahui bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha atau sebab, karena melakukan atau mengambil sebab merupakan kesempurnaa tawakal. Akan tetapi tidak boleh bersandar kepada sebab tersebut. Syekhul islam Abul Abbas rohimahullah berkata, “Meninggalkan sebab adalah celaan terhadap syari’at dan bersandar kepada sebab adalah syirik”. Murid beliau Syamsudin Abu Abdillah rahimahullah berkata, “Pelanggaran terbesar terhadap syari’at adalah meninggalkan sebab karena menyangka bahwa mengambil sebab akan menafikan tawakal”



yang lain berkata, “Mengandalkan sebab adalah celaan terhadap tawakal dan tauhid, sedangkan meninggalkan sebab merupakan celaan terhadap syari’at dan hikmah Allah” karena Allah telah menjadikan segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Maka kita katakan, “Di dalam bertawakal harus terpenuhi dua syarat : pertama, menyerahkan seluruh perkara kepada Allah Ta’ala yang di tangan-NYalah segala urusan. Kedua, tidak boleh bersandar kepada sebab yang dilakukannya. Hati dan batinnya bersandar total kepada Allah Ta’ala, sedangkan anggota badannya menjalani sebab. Dengan itu diketahui bahwa tawakal adalah murni ibadah hati. Barang siapa yang memalingkannya kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik, walaupun dia meyakini bahwa Allah Ta’ala satu-satunya yang menciptakan dan memberi rizki.



Hadits berikut lebih memperjelas: Dari Umar bin Khotob radiyallahu’anhu, ROsulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (Shohih Tirmidzi)



Tawakal burung adalah dengan pergi mencari makanan, maka Allah jamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak tidur saja di sarangnya sambil menunggu makanan datang, tetapi pergi jauh mencari makanan untuk dirinya dan anak-anaknya.



Ketahuilah, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertawakal kepada Allah, namun belian melakukan usaha. Ketika perang uhud beliau memakai dua baju besi dan ketika hijrah ke madinah beliau menyewa penunjuk jalan, beliau juga berlindung dari panas dan dingin, tapi hal tersebut tidak mengurangi tawakalnya kepada Allah Ta’ala.



Jadi, mengambil sebab yang disyari’atkan menunjukan kesempurnaan tawakal dan kekuatannya, dan meninggalkan sebab menunjukan kebodohannya terhadap syari’at rabbnya. Barangsiapa yang membaca kisah-kisah para Nabi, terkhusus Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan melihat bahwasannya mereka adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah Ta’ala, bersamaan dengan itu mereka juga mengambil sebab dan meyakini bahwa hal tersebut merupakan kesempurnaan tawakal kepada Allah.



Penulis: Husni Ridho (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)



Artikel www.muslim.or.id


Thursday, February 25, 2010

Kegundahan Ini apa Kau Merasakannya??


Umar sering kali menangis karena khawatir atas dirinya, serta karena takut kelak dikemudian hari ia tidak bisa berkumpul bersama Rasulullah saw.

Zaid bin Aslam ra. berkata. "Saat itu Umar bin Khathab keluar dimalam hari seperti biasanya untuk memeriksa keadaan rakyatnya, ketika itu Umar melihat cahaya lampu sedang menyala didalam sebuah rumah. Akhirnya Umar mendekatinya, dan lalu terlihat olehnya seorang wanita tua yang sedang menumbuk gandum, yang kemudian gandum itu disaring dan diletakkan kedalam suatu wadah. Ditengah keasyikannya itu, wanita tua tersebut sembari melantunkan bait-bait syair berikut :

Hanya untuk Muhammad shalawat-shalawat dari orang-orang baik
manusia-manusia pilihan juga bershalawat kepadanya
Sungguh aku bangun shalat malam dengan menangis sepanjang malam
Wahai rambutku yang telah memutih waktu kematian tidak lama lagi
Apakah engkau akan mengumpulkanku bersama kekasihku di akhirat?

Maksud dari kekasih dalam bait syair diatas adalah Rasulullah saw."

Mendengar syair itu, Umar pun terduduk sembari menitikan air mata. Tidak berselang lama akhirnya Umar pun mengetuk pintu rumah wanita tua itu. Seketika itu pula wanita tua itu berkata, "Siapa disana?!!"

Umar menjawab, "Aku Umar bin Al-Khathab."

Wanita tua itu berkata lagi, "Apa urusan seorang Umar bin Al-Khathab terhadapku?!! Sebab, tidak mungkin seorang Umar akan datang diwaktu ini!!"

Umar berkata, "Sungguh aku Umar bin Al-Khathab, mohon bukakanlah, semoga ALLAH merahmatimu."

Lalu wanita tua itu pun segera membukakan pintu, dan Umar diperkenankan untuk masuk.

Selanjutnya Umar berkata, "Coba kau ulangi perkataanmu yang tadi kau ucapkan."

Lalu wanita tua itu mengulangi ucapannya, meski sebenarnya belum sampai pada akhir bait terlihat Umar kembali menangis sambil berkata, "Aku mohon kepadamu agar engkau menyertakan aku bersama kalian berdua."

Kemudian wanita tua itu berkata, "Ampunkanlah Umar wahai Dzat yang Maha Pengampun." Akhirnya Umar pun berlalu dengan perasaan nyaman pada dirinya berkat doa wanita tua itu untuknya.

>> Kabar Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dengan riwayat khabar dan juga Sanadnya melalui jalan Ibnu Asakir

Monday, February 22, 2010

Yang Manakah ANDA?!


Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.

Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata, "Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan Tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan kemana mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah orang yg bijak?
Orang yg bijak ialah org yg tidak membiarkan atau membuang tulisan ini begitu saja, malah dia akan menyampaikan pula pada org lain untuk dimanfaatkan dan mengambil contoh sebagai sandaran dan pedoman kehidupan sehari-hari.

*Nasihat Malaikat Jibril Kepada Nabi Muhammad SAW untuk Kita Umatnya *








Hiduplah sesukamu
Tapi sesungguhnya engkau pasti akan mati

Berbuatlah Sesukamu
Sesungguhnya engkau pasti dibalas menurut perbuatanmu itu

Cintailah Siapa saja yang engkau kehendaki
Tapi sesungguhnya engkau pasti berpisah dengannya

Kemuliaan seorang mukmin itu karena sholat malamnya (Qiyamul lail)
Dan kebesarannya ialah tidak butuhnya (Zuhud) kepada sesama manusia